This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 23 Oktober 2011

Seberapa Cerdaskah Anak Anda....

Bicara tentang kecerdasan seorang anak, kita mungkin
akan segera menghubungkannya dengan IQ. Tetapi, tahukah anda apa IQ (Intelligence Quotient) itu ? Berbagai definisi tentang IQ ini bisa diperoleh dari berbagai sumber, dan yang paling mudah untuk dipahami adalah seperti yang diilustrasikan di bawah ini.IQ = (Usia Mental) / (Usia Kronologis) x 100 Usia Mental adalah kapasitas otak yang diukur berdasarkan usia rata-rata anak yang memiliki standard berpikir yang sama. Usia Kronologis adalah umur anak ketika dilakukan tes IQ kepadanya. Misalnya, seorang anak usia 10 tahun mempunyai IQ 170, didapatkan dari perhitungan : 17 / 10 x 100 = IQ 170 Artinya, anak tersebut termasuk anak jenius karena dengan usianya yang 10 tahun, dia mempunyai angka tes orang yang berusia 17 tahun. Hal yang perlu diperhatikan sekali disini, nilai IQ seperti diatas biasanya adalah nilai untuk mengukur kecerdasan AKADEMIK atau IQ VERBAL anak, yaitu kemampuan anak untuk belajar dengan cepat dengan cara membaca dan menulis. Tentu saja, kemampuan anak untuk mencapai nilai IQ seperti di atas yang lebih baik adalah penting, TETAPI itu bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah anak tersebut tergolong cerdas atau tidak. Mengapa ? Howard Gardner di dalam bukunya yang berjudul "Frames of Minds" menunjukkan bahwa ada 7 kecerdasan yang berbeda.1. Linguistik Verbal Kecerdasan yang biasanya dipakai oleh institusi pendidikan untuk mengukur IQ seorang anak, seperti yang dijelaskan di atas.


2. Numerik Kecerdasan yang berhubungan angka atau matematika.


3. Spasial Kecerdasan yang berhubungan dengan kreatifitas seperti kesenian, desain, dsb.


4. Fisik Kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan fisik seperti para atlet olahraga, dsb, termasuk juga orang yang cepat belajar dengan cara melihat, menyentuh dan mengerjakan sesuatu secara langsung.


5. Lingkungan Kecerdasan yang dimiliki oleh orang yang mampu berhubungan dengan alam seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, seperti misalnya pelatih binatang, dsb.


6. Interpersonal Kecerdasan yang dimiliki oleh orang yang mampu berbicara dan berkomunikasi dengan mudah dengan orang lain.


7. Intrapersonal Kecerdasan ini sering disebut dengan kecerdasan emosi, atau emotional intelligence, yaitu kemampuan seorang anak untuk mengendalikan atau mengatur dirinya sendiri. Daniel Goleman, di dalam bukunya yang berjudul "Emotional Intelligence", mengatakan bahwa kecerdasan emosi ini adalah yang TERPENTING dari kecerdasan yang lain.


Hal ini terbukti bahwa banyak sekali orang yang sukses bukan karena IQ-nya yang tinggi, tapi karena kecerdasan emosinya yang sangat baik.


Yang ingin saya katakan disini adalah, jika anda menginginkan anak anda tumbuh menjadi cerdas, anda perlu melihat dengan seksama, kecerdasan seperti apa yang dimiliki secara alami oleh anak anda. Tentunya tidak mudah untuk menemukannya pada waktu yang singkat, karena seseorang anak bisa memiliki berbagai kecerdasan sekaligus. Contohnya, seorang arsitek yang hebat mempunyai kecerdasan no. 1, 2 dan 3 diatas sekaligus. Jadi, berikan kesempatan anak anda untuk melakukan sebanyak mungkin kegiatan yang bervariasi, sehingga dia akan menemukan kegiatan yang paling sesuai untuk dirinya. Selain itu, jangan bosan-bosan untuk melatih kecerdasan emosi anak sejak dini. Misalnya, berikan kesempatan kepada anak untuk merasa kecewa, seperti misalnya dengan tidak menuruti segala kemauannya. Tetapi yang lebih penting disini adalah kemampuan orang tua untuk mengajarkan kepada anak bagaimana cara mengatasi rasa kecewa tersebut. Jika anda salah dalam melakukannya, anda justru merusak kecerdasan emosi anak anda. Satu hal TERPENTING dalam mengasuh anak menjadi cerdas adalah :"JANGAN membanding-bandingkan anak anda dengan anak lain!" Hal ini akan sangat menghambat perkembangan kecerdasan anak anda. Setiap anak PASTI mempunyai kelebihan dari anak lain. Lihatlah selalu kelebihan anak anda, dan jangan terfokus pada kelemahannya. Pada dasarnya semua anak dilahirkan dalam keadaan sangat cerdas. Sikap dan pengetahuan serta kemampuan orang tua-lah yang sangat menentukan apakah kecerdasan anak akan semakin berkembang atau justru semakin terkubur tanpa sempat terlihat. Memang cukup banyak memerlukan energi, waktu dan biaya untuk menjadi orang tua yang baik. Walaupun begitu, jangan lupa untuk selalu mengingat juga Langkah Kesepuluh dari "10 Tindakan Penting untuk Merangsang Perkembangan Otak Anak" seperti yang dijelaskan di ebook"3 Tahun Pertama yang Menentukan". Jika anda mengabaikan langkah kesepuluh ini, anda tidak akan bisa menjadi orang tua yang efektif dalam mengasuh anak anda. Selamat mengasuh anak anda menjadi anak yang semakin cerdas.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Cara Membangun Mental Juara Sejak Dini Pada Anak..

Tiadanya semangat untuk ingin mendapatkan sesuatu yang lebih baik atau mematok standar yang tak rendah bagi diri sendiri seringkali menjadi kendala kesuksesan diri. Bermental juara tanpa perlu menjadi ambisius bukanlah sesuatu yang bisa gampang dipetik. Ada proses sosialisasi dan pembiasaan yang perlu dilakukan, terutama bila diterapkan sejak masa kanak-kanak.
Ketua Jurusan Psikologi Universitas Paramadina, Ayu Dwi Nindyati, Msi, Psi menyatakan bahwa juara tidak hanya merujuk pada anak yang memenangkan kompetisi tertentu. ”Anak bisa juga dikatakan juara saat dia berhasil melakukan apa yang seharusnya dia lakukan,” kata Ayu. Seringkali makna juara yang seperti ini kurang disadari, baik oleh orangtua maupun anak.
Jika orangtua sudah menyadari hal ini, maka hal selanjutnya adalah membentuk mental juara pada anak. ”Membentuk mental juara yang dimaksud adalah bagaimana orangtua membantu anak-anak untuk menang dalam setiap langkahnya,” papar Ayu. Caranya adalah dengan mengajari anak untuk menghargai sekecil apapun prestasi yang dia miliki. ” Dengan begitu, ia juga akan belajar untuk menghargai orang lain,” tambahnya.
Dra. Puji Lestari Prianto, M.Psi, dosen Psikologi Pendidikan dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia menyebutkan bahwa membentuk mental juara juga berarti menempa anak supaya lebih tangguh menghadapi segala tantangan. “Tentu saja untuk masa sekarang ini anak perlu ditempa untuk itu, agar ia siap menghadapi tantangan dan menjadi anak yang mandiri,” urai Puji.
Menurut Puji, banyak manfaat yang dapat diperoleh dari pembentukan mental juara pada anak. Antara lain anak menjadi siap, tidak bergantung pada orang lain, percaya diri, tidak cepat putus asa, serta menjadi sosok pribadi yang terbiasa untuk memecahkan masalah (problem solver).
Cara tepat orangtua membentuk mental juara, kata Puji, adalah dengan tidak selalu membantu anak, tidak selalu menganggap anak masih kecil. “Orangtua perlu menyadari kapan anak perlu dibantu dan kapan anak bisa dilepas untuk memecahkan masalahnya sendiri,” kata Puji. Dengan demikian orangtua dapat membentuk anak menjadi tangguh. Selain itu orangtua juga perlu menanamkan motivasi dari dalam diri anak sendiri, sehingga anak tidak selalu harus disuruh dan ditentukan oleh lingkungannya, dalam melakukan segala sesuatu.
Aspirasi vs Ambisi
Orangtua kerap menyalahartikan konsep membentuk mental juara dengan menuntut anak untuk selalu menjadi juara. “Memotivasi memang penting, tapi jangan lupa bahwa antara memotivasi dengan memaksa itu cukup dekat. Orangtua harus hati-hati agar maksud baiknya untuk memotivasi tidak dilakukan dengan memaksa,” kata Ayu.
Ayu yang juga menjadi konsutan Psikologi untuk pengembangan Sumber Daya Manusia ini menyayangkan bahwa seringkali orangtua lebih termotivasi memiliki pride atau prestise saat anak memenangkan sesuatu, sehingga yang dikejar adalah hasilnya, bukan prosesnya.
“Inilah yang menciptakan anak ambisius, di mana anak hanya akan berorientasi pada pencapaian hasil,” ujarnya. Berbeda dengan anak yang memahami proses maka akan tercipta aspirasi di dalam dirinya. ”Anak yang memiliki aspirasi artinya terinspirasi dan termotivasi untuk senantiasa melakukan yang lebih baik lagi,” tambahnya.
Dengan demikian, aspirasi sifatnya lebih jangka panjang daripada ambisi. ”Pada anak yang ambisius, anak akan sangat keras berusaha mencapai sesuatu akan tetapi di lain pihak anak akan cepat puas dan bangga pada yang diperolehnya dan berhenti hanya sampai di situ,” terang Ayu. Oleh sebab itu, ajarlah anak untuk lebih menghargai proses daripada hasil.
Hal senada juga diungkapkan oleh Puji, yang penting bukanlah menjadi juaranya, tetapi bagaimana usaha anak untuk mencapainya. “Anak tidak harus selalu menjadi juara, tetapi menjadi lebih baik dari yang ia lakukan selama ini. Ia bisa lebih percaya diri, siap menghadapi berbagai tantangan,” paparnya.
Puji menambahkan, menghadapi kekalahan pun merupakan salah satu membentuk mental juara. Dalam hidup, seseorang tidak selalu menghadapi keberhasilan tetapi juga dalam saat-saat tertentu menghadapi kegagalan atau ketidakmulusan. “Dengan adanya hal-hal seperti ini, justru anak belajar bahwa diperlukan usaha untuk mengatasi sesuatu,” katanya.

Latih Mental Juara Sejak Dini
Baik Ayu maupun Puji mengatakan bahwa mental juara dapat dibentuk dan dilatih orangtua sejak kecil, terutama begitu anak mulai berinteraksi dengan dunia sekitarnya. Puji menguatkan penjelasannya dengan teori Erickson yang banyak membahas perkembangan psikososial anak. Menurut teori Erickson, tahun-tahun pertama merupakan tahun pembentukan dasar kepribadiannya kelak, dan dalam hal ini lingkungan sosial amat berpengaruh.
Awal kehidupan anak ditandai dengan adanya trust dan mistrust. Trust atau rasa percaya menunjukkan adanya perasaan kenyamanan fisik dan sedikit rasa takut. Trust di masa kanak-kanak membentuk harapan dalam kehidupan bahwa dunia ini merupakan tempat yang nyaman.
“Jika anak tidak merasa nyaman dengan lingkungannya maka yang berkembang adalah rasa mistrust,” kata Puji. Ayu juga menekankan bahwa anak bukanlah bentuk mini orang dewasa. “Dalam membentuk mental juara dan memotivasi anak harus mementingkan kenyamanan dan kebahagiaan anak, dengan cara-cara yang fun, jangan sampai anak merasa terpaksa dan tidak enjoy terhadap apa yang diakukannya,” tegasnya.
Selanjutnya, pada usia 1-3 tahun ditandai dengan autonomy dan shame and doubt. Pada masa ini anak mulai menemukan dan mengembangkan tingkah lakunya. Jika anak diberi kesempatan untuk mencoba maka akan muncul autonomy, tetapi kalau anak banyak diarahkan, dilarang atau “jangan ini, jangan itu” maka akan menjadi anak yang pemalu atau ragu-ragu. Pada usia ini cukup ideal untuk melepas anak memecahkan masalahnya sendiri, yang merupakan salah satu cara membentuk mental juara.
Sementara pada masa anak-anak awal yaitu usia 3-5 tahun ditandai dengan initiative dan guilt. Masa ini muncul di usia prasekolah, di mana kehidupan sosial anak sudah lebih berkembang. “Saat anak mulai aktif, banyak perilaku perlu dikembangkan agar anak bisa mengatasi atau beradaptasi dengan lingkungannya,” jelas Puji. Anak belajar untuk bertanggungjawab atas berbagai hal, misalnya menjaga milik mereka. Berkembangnya rasa tanggung jawab akan menanamkan rasa inisiatif pada diri anak. Sebaliknya akan muncul anak yang memiliki rasa bersalah dan cemas dikarenakan tidak memiliki rasa tanggung jawab dan tidak diberi kesempatan untuk mandiri. Dengan adanya pengalaman dari lingkungan yag menjadikan anak memiliki rasa percaya pada dunianya, mandiri dan penuh inisiatif, diharapkan membuat anak akan lebih siap menghadapi dunianya.

Hal yang Perlu Diwaspadai
Dalam membentuk mental juara serta memotivasi anak ada beberapa hal yang penting diwaspadai. “Anak menjadi juara bisa membuat anak lebih percaya diri, inilah dampak positifnya. Yang perlu dijaga adalah bila suatu saat anak ini sudah tidak menjadi juara lagi,” papar Ayu. Menurutnya, anak yang selalu atau sangat sering menjadi juara kerap menjadi lebih down ketika mengalami kegagalan. ”Terlebih lagi jika orang-orang di sekitarnya bersifat menyalahkan, anak bisa merasa tidak berharga dan tidak dicintai lagi karena sudah gagal,” sambungnya.
Hal semacam inilah yang biasanya terjadi apabila orangtua dan lingkungan anak yang lebih mengutamakan hasil daripada proses. Akibatnya self-esteem atau penghargaan diri anak menjadi relatif rendah.Hal lain yang perlu diwaspadai adalah munculnya sifat angkuh atau sombong pada anak yang sering menjadi juara atau pemenang. “Sejak awal anak mengikuti suatu kompetisi tertentu, dia harus disiapkan untuk menang maupun kalah,” tegas Ayu. Pujian maupun evaluasi hendaknya diberikan secara proporsional. “Sekecil apapun achievement anak perlu dihargai. Di sisi lain apa yang menjadi kelemahan atau kekurangannya perlu dievaluasi, dicari solusinya,” jelasnya. Dengan demikian anak tidak sombong, tetapi juga masih mau berusaha untuk lebih baik di kesempatan yang akan datang. Yang juga perlu diperhatikan dalam membentuk mental juara ialah menghindarkan anak dari sikap individualis. Seyogyanya anak bermental juara justru mampu beresonansi dengan lingkungan sekitarnya. “Anak yang menghargai dirinya sendiri berdasarkan proses, biasanya juga akan menghargai orang lain,” kata Ayu. Menurut Puji, anak perlu diajarkan untuk menyadari siapa dirinya dan bisa menjelaskan bagaimana hubungannya dengan orang lain.  “Dengan memahami siapa dirinya, mengetahui apa kelebihan dan kelemahan dirinya, maka ia akan tahu perannya: apa yang ia miliki, apa yang ia bisa dan apa yang ia akan lakukan,” urai Puji. Bila ini sudah tercapai, anak akan bisa mandiri tanpa melupakan hakikatnya sebagai makhluk sosial.
Catatan penting bagi setiap orangtua adalah bahwa mental juara dapat dibentuk atau dilatih oleh siapapun, termasuk dari orangtua yang pernah gagal atau tidak terlalu sukses. “Yang perlu diingat adalah bagaimana orangtua menghadapi kegagalan itu sendiri, apakah orangtua merupakan orangtua yang optimis atau frustrasi dan pencemas,” kata Puji. Jika orangtua yang kurang berhasil tetapi ia memiliki kepribadian yang positif dan memiliki motivasi dan keinginan untuk mengembangkan anaknya dalam lingkungan yang sehat , tidak ada paksaan, diharapkan anak bisa tangguh menghadapi tantangan. Setiap anak mampu menjadi juara! Hal ini harus disadari oleh setiap orangtua. Tapi juara juga tidak dicetak dengan mudahnya, butuh usaha dan proses. Salah satu prestasi anak Indonesia yang paling membanggakan adalah ketika Tim Indonesia menjadi Juara Dunia dalam Olimpiade Fisika.
Prof Yohanes Surya PhD, fisikawan, peneliti, sekaligus pendidik yang membawa anak-anak Indonesia meraih kemenangan tersebut, membagi rahasia sukses juara dunia olimpiade fisika ke dalam sebuah buku berjudul An Inspirational Book: Mestakung. Konsep yang disebutnya sebagai Mestakung (Semesta Mendukung tersebut diambil dari konsep sederhana fisika, bahwa ketika sesuatu berada dalam kondisi kritis maka setiap partikel di sekelilingnya bekerja serentak untuk mencapai titik ideal. Berikut ini nilai-nilai penting dari konsep Mestakung, yang akan dapat menginspirasi Anda, para orangtua yang hendak membentuk mental juara pada anak:
1.    Mestakung Terjadi Dimana-mana
Tugas prakarya Amir harus dikumpulkan besok pagi. Awalnya Amir begitu stres karena belum mengerjakan apa-apa. Dia pun mulai bekerja dan bekerja, seluruh sel-sel tubuhnya mulai dari kaki, tangan hingga otak bekerja bersama-sama. Bahkan ayah, ibu, kakak dan adiknya tergerak untuk membantu. Akhirnya pekerjaan Amir pun selesai. Mestakung pun terjadi dalam hal sehari-hari seperti ini.
2.    Mestakung terjadi ketika kita melangkah
Tantangan dan hambatan akan senantiasa hadir dalam setiap langkah kehidupan. Mestakung terjadi bila kita tidak takut untuk terus melangkah, bahkan sampai melakukan pengorbanan jika perlu. Mestakung berawal dari niat dan kegigihan.
3.    Mestakung dalam otak melahirkan kreativitas.
Salah satu ciri mental juara adalah pioneer (perintis) yang memiliki kreativitas tinggi.
4.    Mestakung butuh waktu dan kesabaran.
Mestakung merupakan proses yang tidak didapatkan dalam sekejap.
5.    Tidak ada kamus menyerah dalam mestakung.
Bermental juara berarti siap untuk terus berusaha dan melakukan lebih baik. 
6.    Mestakung pantang bicara ”tidak mungkin”.
Segala sesuatu adalah mungkin asal kita berupaya.
7.    Mestakung dimulai dari mimpi
Impian dan cita-cita merupakan titik awal sebuah proses pencapaian
8.    Mestakung butuh fokus.
Seperti halnya anak-anak dalam tim olimpiade fisika yang berhasil menjadi juara dunia, ajar anak untuk memiliki fokus dalam hidupnya. Dengan demikian proses pencapaian yang dijalaninya memiliki tujuan-tujuan yang jelas.
9.    Mestakung tidak mengenal kata ”gagal”.
Kekalahan hanyalah kemenangan yang tertunda. Terus yakinkan anak bahwa dia selalu dapat berbuat lebih baik dari waktu ke waktu
10.  Mestakung menghasilkan sukses yang luar biasa.
Dari proses panjang yang telah dilewati pada akhirnya akan ada hasil yang dicapai.
11. Bermimpilah setinggi-tingginya dan raihlah itu.
Biarkan anak memiliki impian dan cita-cita, serta bantulah dia untuk mewujudkannya.
12.  Kritis, Langkah dan Tekun.
Kunci Mestakung adalah Kritis, Langkah dan Tekun. Saat anak menghadapi masa kritis, misalnya saat ujian atau sedang bertanding, dampingi anak untuk terus melangkah dengan tekun.

 

Bunuh Diri, Bukanlah Jalan Keluar Untuk Mengatasi Masalah Anda….!!!!!!!!

Hampir sering kita dengar dan lihat diberbagai media massa maupun elektronik akan banyaknya yang melakukan bunuh diri. Ada yang bunuh diri dengan terjun dari gedung yang tinggi, menjerat lehernya dengan seutas tali, meminum racun bahkan melakukan bom bunuh diri. Bunuh diri adalah perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghilangkan nyawa sendiri dan berdosa karena telah mendahului takdir, pelaku bunuh diri juga sebagai tanda bahwa ia adalah orang yang putus asa. Bunuh diri yang dewasa ini sangat memprihatinkan. Tindakan bunuh diri yang dilakukan dapat mencerminkan bahwa lingkungan sosialnya kurang peka terhadap keadaan di sekeliling. Dengan demikian, tindakan bunuh diri semestinya dapat dicegah seandainya lingkungan sosialnya peka dan membantu orang yang sedang menghadapi masalah. Mengapa orang memilih bunuh diri? Secara umum, stres muncul karena kegagalan beradaptasi. Ini dapat terjadi di lingkungan pekerjaan, keluarga, sekolah, pergaulan dalam masyarakat dan sebagainya. Demikian pula bila seseorang merasa terisolasi, kehilangan hubungan atau terputusnya hubungan dengan orang yang disayangi. Padahal hubungan interpersonal merupakan sifat alami manusia. Bahkan keputusan bunuh diri juga bisa dilakukan karena perasaan bersalah. Suami membunuh isteri, kemudian dilanjutkan membunuh dirinya sendiri, bisa dijadikan contoh kasus, depresi berat menjadi penyebab utama. Depresi timbul, karena pelaku tidak kuat menanggung beban permasalahan yang menimpa. Karena terus menerus mendapat tekanan, masalah yang menumpuk dan pada puncaknya memicu keinginan bunuh diri.
Penyebab bunuh diri
Di Jepang, orang kebanyakan melakukan bunuh diri untuk memperlihatkan kesetiaanya ataupun sebagai cara untuk mempertahankan harga dirinya. Banyak kita mendengar pejabat/menteri yang melakukan bunuh diri bila ia merasa telah gagal dalam melaksanakan tugasnya. Di Swedia pelaku bunuh diri biasanya di latar belakangi oleh penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Usia pelaku bunuh diri di negara tersebut rata-rata berkisar antara 16 – 34 tahun. Sedangkan di Indonesia, pelaku bunuh diri biasanya di latar belakangi oleh kesulitan ekonomi, putus asa, masalah percintaan dan sisanya disebabkan oleh masalah-masalah lain.
Untuk menelaah kenapa seseorang melakukan bunuh diri. Minimal harus memenuhi dua syarat, pertama adanya faktor pendahulu yang mempengaruhi seseorang melakukan percobaan bunuh diri, dan kedua adanya faktor pencetus dan situasi yang mendorong seseorang melakukan bunuh diri. Faktor pendorong orang melakukan bunuh diri ini dianggap paling banyak mempengaruhi perilaku seseorang untuk melakukan bunuh diri. bila faktor pendorong yang dimiliki seseorang itu tidak didukung dengan penguasaan eksternal yang kuat, maka perilaku ini akan mendorong seseorang untuk melakukan bunuh diri. Walaupun sejauh ini dan apapun alasannya, seseorang itu melakukan bunuh diri memang sulit dicari penyebabnya. Namun paling tidak sebagian orang yang telah melakukan bunuh diri, seringkali meninggalkan catatan kecil atau semacam surat terakhir untuk orang yang ditinggalkannya yang memberikan kesan tentang suatu masalah yang dia hadapi sebagai penyebab mereka memutuskan bunuh diri. Catatan-catatan kecil itu, hampir semuanya menjelaskan bahwa mereka memutuskan untuk bunuh diri lebih disebabkan oleh faktor ekonomi, kisah asmara dan keluarga.
Durkheim dalam bukunya Suicide. menganalisa bahwa faktor solidaritas sangat terkait dengan kecendrungan seseorang melakukan bunuh diri. Secara implisit, solidaritas sosial terkait dengan faktor ekonomi dan keluarga. Sebab kekentalan nilai kohesif yang ada dalam setiap individu untuk berbagi rasa sangat mewarnai pilihan untuk melakukan bunuh diri. Tindakan bunuh diri terkait dengan tingkat keterikatan seseorang dengan masyarakat. Durkheim menyatakan bunuh diri biasanya terjadi ketika seseorang tidak memiliki ikatan sosial atau hubungan dekat. Bunuh diri terjadi ketika seseorang mengalami keterasingan (anomie) dari lingkungannya. Seringkali fenomena bunuh diri secara psikologis diasosiasikan dengan masalah pribadi. Tetapi secara sosial, bunuh diri tidak bisa lepas dari problem sosial kemasyarakatan. James Frazer, mencoba memecahkan teka-teki bunuh diri ini dikaitkan dengan pemahaman religi. Teori Frazer tentang batas akal mencoba menjelaskan fenomena bunuh diri ini. Bahwa seseorang dalam kapasitas tertentu akan mencoba memecahkan setiap persoalan hidupnya dengan akal sehat (rasionalitas) nya. Namun batas akal seseorang ini memiliki batas toleransi, dimana bila himpitan persoalan itu telah mencapai puncaknya dan akal mereka sudah tidak mampu lagi mencerna, maka seseorang cenderung akan memecahkan persoalan hidupnya secara irasional melalui perantaraan religi. Penguasaan religi seseorang itu menurut Frazer sangat relatif, maka ini dianggap sebagai penguasaan eksternal yang menjelaskan bahwa seseorang itu jadi atau tidaknya melakukan bunuh diri. Pemahaman faktor eksternal yang kuat, dalam hal ini religi dapat menekan perilaku bunuh diri. Dengan demikian religi memiliki fungsi sebagai peredam kegundahan hati manusia. Maka menurut Frazer seseorang yang cukup kuat penguasaan religinya, mereka akan menyikapi segala persoalan hidupnya dengan sikap mental positif dan adanya rasa kepasrahan (tawakal). Namun mereka yang tidak mampu memecahkan masalah hidupnya dan penguasaan religinya juga rendah, cenderung untuk mengambil jalan pintas dengan jalan bunuh diri.
Gejala bunuh diri di Indonesia menunjukkan grafik kenaikan. Kondisi ini bila dilihat secara ekonomi sekarang ini memang tidak kondusif untuk sebagian masyarakat. Tingginya angka pengangguran, kenaikan sejumlah harga kebutuhan pokok, kemiskinan, bencana alam, dan konflik horizontal, telah menyebabkan sebagian dari masyarakat kita mengalami kesulitan hidup. Di pihak lain, bagi mereka yang tidak mampu berusaha survival dan melakukan penyimpangan perilaku ditambah memiliki penguasaan eksternal yang rendah maka pilihan bunuh diri adalah yang paling mudah untuk dilakukan. Karena dengan bunuh diri dianggap persoalan hidup yang kurang menguntungkan bagi dirinya terselesaikan. Maka jadi wajar bila angka bunuh diri semakin meningkat di tengah alam ekonomi dan belenggu kemiskinan banyak memihak pada kaum yang mudah putus asa karena penguasaan eksternalnya lemah. Banyak teori tentang mengapa orang nekat bunuh diri. Ada bunuh diri absurditas, bunuh diri eksistensialis, bunuh diri
patologis, bahkan bunuh diri berlandaskan romantisme dan heroisme. Untuk masyarakat Indonesia, kebingungan atau faktor anomik menjadi penyebab paling banyak kasus bunuh diri. seperti kejiwaan, kebudayaan, dan juga sosial ekonomi.
Adapun penyebab seseorang bunuh diri, yaitu atruistik, katalisme, dan anomik, untuk faktor atruistik, bunuh diri biasanya disebabkan kepada kecintaan terhadap agama, negara, atau kehormatan keluarga. Contohnya aksi bom bunuh diri atau jihad. Sedangkan untuk bunuh diri katalisme, terjadi ketika seseorang sudah merasa hidupnya tak berharga lagi yang berujung putus asa atau depresi. Misalnya di Amerika, orangtua yang sudah berumur 70 tahun dan merasa tak ada lagi yang bisa dilakukan, sehingga bunuh diri. Atau bunuh diri karena madzhab tertentu yang merasa di dunia ini sudah tak ada artinya, Faktor ketiga yaitu anomik merupakan penyebab yang paling banyak terjadi pada kasus bunuh diri di Indonesia. Pada umumnya kasus-kasus bunuh diri di masyarakat kita, selain karena persoalan ekonomi, juga banyak dipengaruhi mengendurnya ikatan kekeluargaan. penyebab bunuh diri seperti kegagalan beradaptasi, kegagalan hubungan interpersonal dengan orang lain hingga merasa terisolasi, kemarahan akibat ketidakmampuan mengendalikan emosi, serta ungkapan ketidakberdayaan atas berbagai masalah yang ia hadapi. Cara mengakhiri hidup itu dapat diklasifikasi menjadi empat dasar yang dikombinasikan menjadi NASH (Natural Accident Suicide and Homicide). Homicide atau pembunuhan, termasuk dalam disiplin Ilmu Kniminologi. Sedangkan suicide (bunuh diri), adalah ilmu yang mempelajari latar belakang, jenis, teknik bunuh diri dan upaya pencegahannya secara ilmiah dan manusiawi.
Upaya mengatasi bunuh diri
Upaya preventif dapat dilakukan oleh para pakar dari berbagai disiplin ilmu seperti psikiater, dokter, perawat, psikolog, sosiolog, pendidik, tenaga kesehatan masyarakat dan lain-lain. Masalah bunuh diri memang sangat kompleks, dari pendekatan segi ilmu kesehatan masyarakat ada beberapa hal yang perlu disikapi sebagai upaya pencegahan secara dini yaitu perlunya meningkatkan peran, fungsi dan tugas keluarga dan dukungan dari masyarakat. Upaya pencegahan pada tingkat masyarakat yaitu dapat memberikan perhatian, bimbingan dan bantuan untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh seseorang atau keluarga.
Warga masyarakat, perlu menajamkan kepekaan terhadap kesulitan orang-orang disekitarnya serta peran pemerintah sangat diperlukan berperan aktif, dalam melindungi dan menjaga ketentraman masyarakatnya. Upaya pencegahan juga harus dilakukan di institusi pendidikan. Sedangkan nilai budaya yang dipercaya di suatu masyarakat yang sebenarnya salah terkait dengan bunuh diri dapat dihilangkan secara perlahan-lahan seiring dengan meningkatnya tingkat pengetahuan dan pendidikan keluarga dan masyarakat serta meningkatnya pemahaman dan keyakinan seseorang pada ajaran agama secara benar. Dukungan dari masyarakat, keluarga sangat berarti dalam upaya menekan tingginya kasus bunuh diri. Lingkungan keluarga, masyarakat harus diciptakan agar sehat, agamis, bersahabat, damai dan nyaman sehingga pelaku bunuh diri tidak akan mencoba untuk melakukan perbuatan bunuh diri.
Written By : Rio Armanda Agustian, S.H., M.H.
Dosen, Kriminolog, Peneliti Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial
Universitas Bangka Belitung