This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 07 November 2011

Mengenal tentang Autisme...

Banyak sekali definisi yang beredar tentang apa itu Autisme. Tetapi secara garis besar, Autisme, adalah gangguan perkembangan khususnya terjadi pada masa anak-anak, yang membuat seseorang tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Pada anak-anak biasa disebut dengan Autisme Infantil.
Schizophrenia juga merupakan gangguan yang membuat seseorang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya sendiri : berbicara, tertawa, menangis, dan marah-marah sendiri.
Tetapi ada perbedaan yang jelas antara penyebab dari Autisme pada penderita Schizophrenia dan penyandang autisme infantil. Schizophrenia disebabkan oleh proses regresi karena penyakit jiwa, sedangkan pada anak-anak penyandang autisme infantil terdapat kegagalan perkembangan.
Gejala autisme infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak, gejala-gejala itu sudah ada sejak lahir. Seorang Ibu yang sangat cermat memantau perkembangan anaknya sudah akan melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya mencapai usia 1 tahun. Yang sangat menonjol adalah tidak adanya atau sangat kurangnya tatap mata.
Untuk memeriksa apakah seorang anak menderita autis atau tidak, digunakan standar internasional tentang autisme. ICD-10 (International Classification of Diseases) 1993 dan DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual) 1994 merumuskan kriteria diagnosis untuk Autisme Infantil yang isinya sama, yang saat ini dipakai di seluruh dunia. Kriteria tersebut adalah :
Harus ada sedikitnya 6 gejala dari (1), (2), dan (3), dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing 1 gejala dari (2) dan (3).
(1) Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik. Minimal harus ada 2 dari gejala di bawah ini :
  • Tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai : kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak gerik kurang tertuju
  • Tidak bisa bermain dengan teman sebaya
  • Tak ada empati (tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain)
  • Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik

(2) Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi. Minimal harus ada 1 dari gejala di bawah ini :
  • Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tak berkembang. Anak tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non-verbal
  • Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk berkomunikasi
  • Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang
  • Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat meniru

(3) Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat, dan kegiatan. Minimal harus ada 1 dari gejala di bawah ini :
  • Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan
  • Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya
  • Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang
  • Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda

Sebelum umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang (1) interaksi sosial, (2) bicara dan berbahasa, dan (3) cara bermain yang monoton, kurang variatif.
Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa Kanak.
Namun kemungkinan kesalahan diagnosis selalu ada, terutama pada autisme ringan. Hal ini biasanya disebabkan karena adanya gangguan atau penyakit lain yang menyertai gangguan autis yang ada, seperti retardasi mental yang berat atau hiperaktivitas.
Autisme memiliki kemungkinan untuk dapat disembuhkan, tergantung dari berat tidaknya gangguan yang ada. Berdasarkan kabar terakhir, di Indonesia ada 2 penyandang autis yang berhasil disembuhkan, dan kini dapat hidup dengan normal dan berprestasi. Di Amerika, di mana penyandang autisme ditangani secara lebih serius, persentase kesembuhan lebih besar.

Bila Anda membutuhkan informasi yang lebih detail tentang autisme, silakan menghubungi alamat di bawah ini :
P2GPA
Pusat Pelayanan Gangguan Perkembangan Anak
Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata
Jl. Imam Bonjol 186 A, Semarang 50132
Telp. 024 - 554613

POPAA
Perkumpulan Orangtua Pembina Anak Autistik
Jl. Erlangga Tengah III/34, Semarang
Telp. 024 - 313083

Yayasan Autisma Indonesia
Jl. Buncit Raya No. 55, Jakarta Pusat
Telp. 021 - 7971945 - 7991355

Kenakalan Pada Remaja....

Ada seorang Ibu yang tinggal di Jakarta bercerita bahwa sejak maraknya kasus tawuran pelajar di Jakarta, Beliau mengambil inisiatif untuk mengantar dan menjemput anaknya yang sudah SMU, sebuah kebiasaan yang belum pernah Beliau lakukan sebelumnya. Bagaimana tidak ngeri, kalau pelajar yang tidak ikut-ikutan-pun ikut diserang ?
Mengapa para pelajar itu begitu sering tawuran, seakan-akan mereka sudah tidak memiliki akal sehat, dan tidak bisa berpikir mana yang berguna dan mana yang tidak ? Mengapa pula para remaja banyak yang terlibat narkoba dan seks bebas ? Apa yang salah dari semua ini ?
Seperti yang sudah diulas dalam artikel lain di situs ini, remaja adalah mereka yang berusia antara 12 - 21 tahun. Remaja akan mengalami periode perkembangan fisik dan psikis sebagai berikut :

  • ·         Masa Pra-pubertas (12 - 13 tahun)
  • ·         Masa pubertas (14 - 16 tahun)
  • ·         Masa akhir pubertas (17 - 18 tahun)
  • ·         Dan periode remaja Adolesen (19 - 21 tahun)


  1. 1.     Masa pra-pubertas (12 - 13 tahun)

Masa ini disebut juga masa pueral, yaitu masa peralihan dari kanak-kanak ke remaja. Pada anak perempuan, masa ini lebih singkat dibandingkan dengan anak laki-laki. Pada masa ini, terjadi perubahan yang besar pada remaja, yaitu meningkatnya hormon seksualitas dan mulai berkembangnya organ-organ seksual serta organ-organ reproduksi remaja. Di samping itu, perkembangan intelektualitas yang sangat pesat jga terjadi pada fase ini. Akibatnya, remaja-remaja ini cenderung bersikap suka mengkritik (karena merasa tahu segalanya), yang sering diwujudkan dalam bentuk pembangkangan ataupun pembantahan terhadap orang tua, mulai menyukai orang dewasa yang dianggapnya baik, serta menjadikannya sebagai "hero" atau pujaannya. Perilaku ini akan diikuti dengan meniru segala yang dilakukan oleh pujaannya, seperti model rambut, gaya bicara, sampai dengan kebiasaan hidup pujaan tersebut.
Selain itu, pada masa ini remaja juga cenderung lebih berani mengutarakan keinginan hatinya, lebih berani mengemukakan pendapatnya, bahkan akan mempertahankan pendapatnya sekuat mungkin. Hal ini yang sering ditanggapi oleh orang tua sebagai pembangkangan. Remaja tidak ingin diperlakukan sebagai anak kecil lagi. Mereka lebih senang bergaul dengan kelompok yang dianggapnya sesuai dengan kesenangannya. Mereka juga semakin berani menentang tradisi orang tua yang dianggapnya kuno dan tidak/kurang berguna, maupun peraturan-peraturan yang menurut mereka tidak beralasan, seperti tidak boleh mampir ke tempat lain selepas sekolah, dan sebagainya. Mereka akan semakin kehilangan minat untuk bergabung dalam kelompok sosial yang formal, dan cenderung bergabung dengan teman-teman pilihannya. Misalnya, mereka akan memilih main ke tempat teman karibnya daripada bersama keluarga berkunjung ke rumah saudara.
Tapi, pada saat yang sama, mereka juga butuh pertolongan dan bantuan yang selalu siap sedia dari orang tuanya, jika mereka tidak mampu menjelmakan keinginannya. Pada saat ini adalah saat yang kritis. Jika orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan psikisnya untuk mengatasi konflik yang terjadi saat itu, remaja akan mencarinya dari orang lain. Orang tua harus ingat, bahwa masalah yang dihadapi remaja, meskipun bagi orang tua itu merupakan masalah sepele, tetapi bagi remaja itu adalah masalah yang sangat-sangat berat. Orang tua tidak boleh berpikir, "Ya ampun... itu kan hal kecil. Masa kamu tidak bisa menyelesaikannya ? Bodoh sekali kamu !", dan sebagainya. Tetapi perhatian seolah-olah orang tua mengerti bahwa masalah itu berat sekali bagi remajanya, akan terekam dalam otak remaja itu bahwa orang tuanya adalah jalan keluar ang terbaik baginya. Ini akan mempermudah orang tua untuk mengarahkan perkembangan psikis anaknya.

  1. 2.      Masa pubertas (14 - 16 tahun)

Masa ini disebut juga masa remaja awal, dimana perkembangan fisik mereka begitu menonjol. Remaja sangat cemas akan perkembangan fisiknya, sekaligus bangga bahwa hal itu menunjukkan bahwa ia memang bukan anak-anak lagi. Pada masa ini, emosi remaja menjadi sangat labil akibat dari perkembangan hormon-hormon seksualnya yang begitu pesat. Keinginan seksual juga mulai kuat muncul pada masa ini. Pada remaja wanita ditandai dengan datangnya menstruasi yang pertama, sedangkan pada remaja pris ditandai dengan datangnya mimpi basah yang pertama. Remaja akan merasa bingung dan malu akan hal ini, sehingga orang tua harus mendampinginya serta memberikan pengertian yang baik dan benar tentang seksualitas. Jika hal ini gagal ditangani dengan baik, perkembangan psikis mereka khususnya dalam hal pengenalan diri/gender dan seksualitasnya akan terganggu. Kasus-kasus gay dan lesbi banyak diawali dengan gagalnya perkembangan remaja pada tahap ini.
Di samping itu, remaja mulai mengerti tentang gengsi, penampilan, dan daya tarik seksual. Karena kebingungan mereka ditambah labilnya emosi akibat pengaruh perkembangan seksualitasnya, remaja sukar diselami perasaannya. Kadang mereka bersikap kasar, kadang lembut. Kadang suka melamun, di lain waktu dia begitu ceria. Perasaan sosial remaja di masa ini semakin kuat, dan mereka bergabung dengan kelompok yang disukainya dan membuat peraturan-peraturan dengan pikirannya sendiri.

  1. 3.      Masa akhir pubertas (17 - 18 tahun)

Pada masa ini, remaja yang mampu melewati masa sebelumnya dengan baik, akan dapat menerima kodratnya, baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Mereka juga bangga karena tubuh mereka dianggap menentukan harga diri mereka. Masa ini berlangsung sangat singkat. Pada remaja putri, masa ini berlangsung lebih singkat daripada remaja pria, sehingga proses kedewasaan remaja putri lebih cepat dicapai dibandingkan remaja pria. Umumnya kematangan fisik dan seksualitas mereka sudah tercapai sepenuhnya. Namun kematangan psikologis belum tercapai sepenuhnya.

  1. 4.  Periode remaja Adolesen (19 - 21 tahun)

Pada periode ini umumnya remaja sudah mencapai kematangan yang sempurna, baik segi fisik, emosi, maupun psikisnya. Mereka akan mempelajari berbagai macam hal yang abstrak dan mulai memperjuangkan suatu idealisme yang didapat dari pikiran mereka. Mereka mulai menyadari bahwa mengkritik itu lebih mudah daripada menjalaninya. Sikapnya terhadap kehidupan mulai terlihat jelas, seperti cita-citanya, minatnya, bakatnya, dan sebagainya. Arah kehidupannya serta sifat-sifat yang menonjol akan terlihat jelas pada fase ini.
Kenakalan remaja
Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat, dengan perkembangan fisik, psikis, dan emosi yang begitu cepat. Secara psikologis, kenakalan remaja merupakan wujud dari konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun remaja para pelakunya. Seringkali didapati bahwa ada trauma dalam masa lalunya, perlakuan kasar dan tidak menyenangkan dari lingkungannya, maupun trauma terhadap kondisi lingkungan, seperti kondisi ekonomi yang membuatnya merasa rendah diri, dan sebagainya.
Mengatasi kenakalan remaja, berarti menata kembali emosi remaja yang tercabik-cabik itu. Emosi dan perasaan mereka rusak karena merasa ditolak oleh keluarga, orang tua, teman-teman, maupun lingkungannya sejak kecil, dan gagalnya proses perkembangan jiwa remaja tersebut. Trauma-trauma dalam hidupnya harus diselesaikan, konflik-konflik psikologis yang menggantung harus diselesaikan, dan mereka harus diberi lingkungan yang berbeda dari lingkungan sebelumnya. Pertanyaannya : tugas siapa itu semua ? Orang tua-kah ? Sedangkan orang tua sudah terlalu pusing memikirkan masalah pekerjaan dan beban hidup lainnya. Saudaranya-kah ? Mereka juga punya masalah sendiri, bahkan mungkin mereka juga memiliki masalah yang sama. Pemerintah-kah ? Atau siapa ? Tidak gampang untuk menjawabnya. Tetapi, memberikan lingkungan yang baik sejak dini, disertai pemahaman akan perkembangan anak-anak kita dengan baik, akan banyak membantu mengurangi kenakalan remaja. Minimal tidak menambah jumlah kasus yang ada.

Peran Orang Tua terhadap Perkembangan Anak dan Remaja

Anak adalah anugerah dari sang pencipta, orang tua yang melahirkan anak harus bertangung jawab terutama dalam soal mendidiknya, baik ayah sebagai kepala keluarga maupun ibu sebagai pengurus rumah tangga. Keikutsertaan orang tua dalam mendidik anak merupakan awal keberhasilan orang tua dalam keluarganya apabila sang anak menuruti perintah orang tuanya terlebih lagi sang anak menjalani didikan sesuai dengan perintah agama.
Bobroknya moral seorang anak dan remaja bisa diakibatkan salah satu kesalahan dari orangtuanya seperti dalam hal mendidik anak terlalu keras. keluarga yang sedang bermasalah (broken home). Hal tersebut dapat membuat anak menjadi orang yang temperamental. Kebanyakan dari orang tua tidak memikirkan hal ini, mereka berasumsi jika mereka menjalani hidup sebagaimana yang sedang mereka jalani, peran pengasuhan akan terus dengan sendirinya.
Dalam era modernisasi sekarang ini, peran penting orang tua sangat dibutuhkan. Berkenaan dengan perkembangan kecanggihan teknologi. Sesuatu yang tidak dapat dihindari bahwa teknologi berkembang dengan pesat sehingga penggunaannya banyak digunakan tidak semestinya, Teknologi IT yang paling sering digunakan para anak muda sekarang adalah akses internet yang mudah ditemui, padahal pemerintah sudah mengeluarkan undang-undang anti pornoaksi dan pornografi tapi masih saja mereka kerap mengakses konten yang berbau negatif. Yang jelas dapat merusak moral sang anak. Teknologi canggih yang semestinya diciptakan untuk menambah wawasan malah berakibat pada moral yang jelek.
Pergaulan merupakan interaksi antara beberapa orang baik berupa kekeluargaan, organisasi, ataupun masyarakat. Melalui pergaulan kita akan berkembang karena jadi tahu tentang tata cara bergaul. Sehingga menjadikan individu yang bersosial karena pada dasarnya manusia memang makhluk sosial. Namun pergaulan di era modernisasi ini telah banyak disalah artikan terutama dikalangan anak muda. Sekarang kata-kata pergaulan bebas sudah tidak asing lagi didengar oleh siapapun dan jelas termasuk dalam kategori pergaulan yang negatif.
Pergaulan yang negatif adalah salah satu dari sekian banyak penyebab kehancuran sang anak. Saat ini dapat kita lihat banyaknya sistem pergaulan kawula muda yang mengadopsi gaya ala barat (westernisasi) dimana etika pergaulan ketimuran telah pupus, mungkin anda pernah atau bahkan sering mendengar kata-kata MBA (married by accident). MBA tampaknya sudah menjadi tren dikalangan remaja dimana melakukan hubungan seks sebelum menikah banyak dilakukan pada saat pacaran. Anak-anak muda sudah menganggap tradisi ini hal yang biasa dilakukan pada saat pacaran bahkan ada yang tidak segan-segan untuk merekam adegan mesum tersebut untuk disebarkan dan ditonton dikhalayak ramai. Apakah ini bukan kehancuran bagi sang anak?. Jawabannya tentu saja iya.
Satu lagi permasalahan yang sering ditakuti oleh orang tua yaitu narkoba, sudah jelas barang haram ini dikategorikan sebagai barang berbahaya dan terlarang yang bisa merusak generasi muda. Narkoba menjadi jurang kehancuran bagi sang anak. Ironisnya memakai barang haram ini juga sudah menjadi tren remaja sekarang dengan anggapan bila mengkonsumsi barang ini akan menjadi senang atau yang dikenal dengan bahasa gaulnya (fly). Padahal sudah jelas menurut kesehatan mengkonsumsi barang-barang sejenis narkoba sangat merusak kesehatan terutama pada sistem syaraf apalagi dengan mengkonsumsi barang ini akan membuat ketagihan dan ketergantungan, ini sungguh menakutkan.
Apakah kita sebagai orang tua ingin melihat anak hancur masa depannya karena kesalahan yang tidak semestinya terjadi? Di sinilah peran penting orang tua dalam mengontrol dan mengawasi sang buah hati. Menjadi orang tua bukan soal siapa kita, tetapi apa yang dilakukan. Pengasuhan tidak hanya mencakup tindakan tetapi mencakup pula apa yang kita kehendaki agar sang buah hati kita mengerti akan hidup. Apa artinya hidup dan bagaimana menjalani kehidupan ini dengan baik.
Semua pasti ingin menghendaki hal yang terbaik untuk anak-anaknya. Orang tua ingin mendisiplinkan, mendorong, dan menasihati agar mereka berhasil menjalani kehidupan sedari kanak-kanak hingga sampai dewasa. Orang tua harus menjadi yang terbaik dalam hal apapun. Banyak orang tua ingin mendorong anaknya untuk melakukan hal yang terbaik dalam kehidupannya. Termasuk ingin membuat buah hatinya untuk bebas mengeluarkan dan menggali bakat dan minat yang dimiliki sang anak.
Hal yang semestinya dipahami adalah banyak anak mengalami kesulitan untuk membedakan antara menerima atau menolak tindakan atas apa yang mereka lakukan. Misalnya saja penerimaan orang tua terhadap prestasi yang dimiliki atau dicapai anak bisa dianggap anak sebagai rasa cinta orangtua kepadanya,tetapi penolakan yang dilakukan orang tua terhadap tindakan yang dilakukan anak membuat anak beranggapan mereka tidak dicintai dan disayangi lagi. Setiap anak perlu tahu kalau mereka disayangi dan dicintai orang tua dengan sepenuh hati, meskipun sebaliknya, setiap orang tua harus mencintai dan menyayangi sang buah hati tanpa syarat apapun, baik buruknya sifat maupun sikap yang dimiliki sang buah hati, mereka harus menerima kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh anak.
Semua anak ingin diperhatikan kedua orang tuanya. Pernyatan ini sangat sederhana bagi kita semua, tetapi sifatnya fundamental bagi kedua orang dalam mengasuh buah hati mereka. Karenanya dalam pola pengasuhan sebaiknya setiap orang tua tidak boleh membedakan anak satu sama lain.
Kita juga tidak semestinya membedakan buah hati mereka, baik dalam mendidik maupun memberikan perhatian kepada sang anak. Harus ada rasa keadilan, tidak boleh pilih kasih, karena akan menimbulkan kecemburuan diantara anak. Yang ditakutkan nanti akan membuat anak menjadi rusak, bahkan berpikir kalau mereka tidak disayangi lagi, bahkan ada anak yang beranggapan kalau mereka itu bukan anak dari orang tua mereka sendiri, karena selalu dibeda-bedakan dengan yang lainnya.
Orang tua tidak seharusnya memperlihatkan emosi yang negatif kepada anak-ananya. Ketidakmampuan setiap orang tua dalam mengontrol emosi membuat anak menjadi temperamental dan mempunyai sifat maupun sikap yang buruk yaitu mudah emosional. Akibatnya orang tua yang demikian tidak bisa menjadi model atau peran yang baik untuk anak-anaknya dalam mengontrol anak dan mengasuh buah hatinya.
Tujuan orang tua sebenarnya untuk mengkomunikasikan kepada buah hatinya bahwa mereka memiliki hak untuk merasakan apapun yang mereka rasakan, Mengajari sang buah hati untuk menghargai dan menikmati setiap saat dalam kehidupan sehingga mampu memberi motivasi kepada anak dalam mencegah serta menghadapi masalah yang mereka hadapi kedepan.
Terkadang orang tua sering lupa untuk berinteraksi dengan anak- anaknya. Ada diantara mereka yang lebih mementingkan pekerjaan dari pada melakukan hal itu. Bagi mereka hal itu tidak perlu dilakukan. Mereka beranggapan bahwa materi yang dibutuhkan anak, Padahal seorang anak tidak hanya membutuhkan materi namun juga perhatian dan interaksi dengan orangtuanya. Mereka membutuhkan komunikasi dengan orang tuanya, mereka juga ingin bertukar pikiran dengan orang tuanya. Mereka ingin menceritakan pegalaman apa yang mereka rasakan sehari-hari baik itu pangalaman yang baik maupun pengalaman yang buruk.
Sekali lagi yang perlu diingat oleh kedua orang tua adalah jika seorang anak atau remaja kurang mendapatkan perhatian dari orang tua, besar kemungkinan dia akan menjadi seorang anak dan remaja yang temperamental. Sang anak menjadi bebas dalam melakukan segala hal, baik itu dalam hal kebaikan maupun keburukan. Sebagai orangtua seharusnya memiliki kemampuan untuk memusatkan perhatian pada perilaku positif serta tak lupa pada perilaku buruk sang anak.
Sebagai orang tua yang baik, jangan melihat keburukan atau kebaikan. Namun lihatlah dari tata cara bergaul sang anak, dengan siapa bergaul, bagaimana luas pergaulannya. Bukan sekedar untuk membatasi sang anak dalam bergaul namun diharapkan impian melihat anak sukses mengarungi kehidupan tanpa mengalami kesalahan dalam pergaulan baik dilingkungan keluarga, atau lingkungan luar menjadi sebuah kenyataan. Manfaatnya kembali ke orang tua, sebab sang anak lalu menjadi orang yang menghargai kedua orang tua.

Sumber Dari Susriana
Program studi pertanian Fakultas Pertanian Perikanan dan Biologi - FPPB
Universitas Negeri Bangka Belitung

Perkembangan Gadis Remaja Selama Masa Pubertas

Bagi anak gadis, perkembangan fisik yang berhubungan dengan aspek seksual yang terjadi selama masa puber memiliki ciri-ciri yang amat khas. Walaupun masing-masing anak dapat berbeda dalam perkembangannya tetapi umumnya ciri-ciri standart perkembangan tersebut adalah :
Ø  Perkembangan mulai kira-kira pada umur 11 tahun.
Ø  Berikutnya buah dada mulai tumbuh dan pantatnya makin membulat.
Ø  Rambut di kemaluan mulai tumbuh.
Ø  Uterus, vagina. Labia dan clitoris mulai membesar ukurannya.
Ø Selanjutnya bulu di kemaluan mulai terlihat jelas dan buah dada semakin membesar.
Ø  Perkembangan secara fisik ini mencapai puncaknya kira-kira pada usia 12 tahun.
Ø  Pada puncak perkembangan ini menstruasi mulai datang.
Ø Setelah fase ini mereka akan dapat melakukan pembuahan ( konsepsi ) kira-kira setahun setelah menstruasi datang.
Ketika pertumbuhan ini sedang terjadi, ada kalanya tubuh seorang anak gadis tumbuh secara asimetris. Misalnya, kaki mereka tumbuh lebih dulu. Lalu tungkai dan lengan. Selanjutnya baru bagian tubuh lainnya. Ada kalanya ketika pertumbuhan ini sedang terjadi mereka tampak lucu dan ini kadang kala dapat membuatnya minder. Misalnya ukuran kaki yang tiba-tiba dirasakan besar sekali. Untuk itu orang tua sebaiknya membantu mereka dengan menjelaskan tentang pertumbuhannya itu melalui informasi-informasi yang benar.

Sumber: Perkembangan Gadis Remaja Selama Masa Pubertas Psikologi http://keluargacemara.com/psikologi/perkembangan-gadis-remaja-selama-masa-pubertas.html#ixzz1cyiUN8lS 

Jumat, 04 November 2011

Kecemasan Dalam Menghadapi Datangnya Monopause

Pengertian kecemasan menghadapi menopause
a. Pengertian kecemasan. Salah satu gejala yang dialami oleh semua orang dalam hidup adalah kecemasan. Menjadi cemas pada tingkat tertentu dapat dianggap sebagai bagian dari respon normal untuk mengatasi masalah sehari-hari. Bagaimanapun juga bila kecemasan ini berlebihan dan tidak sebanding dengan suatu situasi, hal itu dianggap sebagai hambatan dan dikenal sebagai masalah
klinis. Menurut Bryne (1966), bahwa kecemasan adalah suatu perasaan yang dialami individu, seperti apabila ia mengalami ketakutan. Pada kecemasan perasaan ini bersifat kabur, tidak realistis atau tidak jelas obyeknya sedangkan pada ketakutan obyeknya jelas. Menurut Hurlock (1990), kecemasan adalah bentuk perasaan khawatir, gelisah dan perasaan-perasaan lain yang kurang menyenangkan. Biasanya perasaan-perasaan ini disertai oleh rasa kurang percaya diri, tidak mampu, merasa rendah diri, dan tidak mampu menghadapi suatu masalah. Menurut Kartono (1997), ketidakberanian individu dalam menghadapi suatu masalah dan ditambah dengan adanya kerisauan terhadap hal-hal yang tidak jelas merupakan tanda-tanda kecemasan pada individu. Pendapat ahli lain Havary (1997), berpendapat bahwa kecemasan merupakan reaksi psikis terhadap kondisi mental individu yang tertekan. Apabila orang menyadari bahwa hal-hal yang tidak bisa berjalan dengan baik pada situasi tertentu akan berakhir tidak enak maka mereka akan cemas. Kondisi-kondisi atau situasi yang menekan akan memunculkan kecemasan. Dari uraian di atas diambil suatu kesimpulan bahwa kecemasan adalah suatu kondisi psikologis individu yang berupa ketegangan, kegelisahan, kekhawatiran sebagai reaksi terhadap adanya sesuatu yang bersifat mengancam.
b. Pengertian menopause. Menurut Kartono (1992), bahwa “men” berarti bulan, “pause, pausa, pausis, paudo” berarti periode atau tanda berhenti, hilangnya menopause diartikan sebagai berhentinya secara definitif menstruasi. Mappiare (1983), mengemukakan menopause sebagai akibat adanya perubahan fisik dan psikis yang ditandai dengan berhentinya produksi sel telur dan hilangnya kemampuan untuk melahirkan anak yang juga ditandai berhentinya menstruasi. Wanita akan mengalami menopause ditandai dengan berhentinya sirkulasi haid dan juga diikuti dengan melemahnya organ produksi dan muncul gejalagejala penuaan dibeberapa bagian tubuh. (Ibrahim, 2002) Pakasi (1996), menjelaskan definisi menopause bukan hanya dari segi fisik yaitu berhentinya menstruasi, tetapi dari segi usia yaitu dimulai pada akhir masa menopause dan berakhir pada awal lanjut usia (senium) yaitu sekitar 40-65 tahun. Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan menopause adalah suatu fase dari kehidupan wanita yang ditandai dengan berhentinya menstruasi, berhentinya produksi sel telur, hilangnya kemampuan melahirkan anak, dan membawaperubahan dan kemunduran baik secara fisik maupun psikis.
c. Pengertian kecemasan menghadapi menopause. Burn (1988), bahwa kebanyakan wanita menopause sering mengalami depresi dan kecemasan dimana kecemasan yang muncul dapat menimbulkan insomnia atau tidak bisa tidur. Setiap orang mempunyai keyakinan dan harapan yang berbeda-beda. Karena perbedaan itu maka tidak ada dua orang yang akan memberikan reaksi yang sama, meskipun tampaknya mereka seakan-akan bereaksi dengan cara yang sama. Situasi yang membuat cemas adalah situasi yang mengandung masalah tertentu yang akan memicu rasa cemas dalam diri seseorang dan tidak terjadi pada orang lain. (Tallis, 1995) Kartono (1992), mengemukakan perubahan-perubahan psikis yang terjadi pada masa menopause akan menimbulkan sikap yang berbeda-beda antara lain yaitu adanya suatu krisis yang dimanifestasikan dalam simtom-simtom psikologis seperti: depresi, mudah tersinggung, dan mudah menjadi marah, dan diliputi banyak kecemasan. Adanya perubahan fisik yang terjadi sehubungan dengan menopause mengandung arti yang lebih mendalam bagi kehidupan wanita. Berhentinya siklus menstruasi dirasakan sebagai hilangnya sifat inti kewanitaannya karena sudah tidak dapat melahirkan anak lagi. Akibat lebih jauh adalah timbulnya perasaan tak berharga, tidak berarti dalam hidup sehingga muncul rasa khawatir akan adanya kemungkinan bahwa orang-orang yang dicintainya berpaling dan meningggalkannya. Perasaan itulah yang seringkali dirasakan wanita pada masa menopause, sehingga sering menimbulkan kecemasan. (Muhammad,1981) Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kecemasan menghadapi menopause adalah perasaan gelisah, khawatir dari adanya perubahanperubahan fisik, sosial maupun seksual sehubungan dengan menopause.
2. Faktor penyebab kecemasan menghadapi menopause Sebuah permasalahan yang muncul pasti ada yang melatarbelakanginya, sehingga permasalahan itu timbul demikian juga kecemasan yang dialami oleh seseorang, ada penyebab yang melatarbelakanginya. Menurut Kartono (2000), kecemasan disebabkan oleh dorongan-dorongan seksual yang tidak mendapatkan kepuasan dan terhambat, sehingga mengakibatkan banyak konflik batin. Menurut Hartoyo (2004), bahwa stressor pencetus kecemasan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu:
a. Ancaman terhadap integritas fisik, meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari.
b. Ancaman terhadap system diri, dapat membahayakan identitas, harga diri, dan fungsi integritas sosial. Faktor internal dan eksternal dapat mengancam harga diri. Faktor eksternal meliputi kehilangan nilai diri akibat kematian, cerai, atau perubahan jabatan. Faktor internal meliputi kesulitan interpersonal di rumah atau tempat kerja. Menurut Carpenito (1998), ada beberapa faktor yang berhubungan dengan munculnya kecemasan yaitu :
a. Patofisiologis, yaitu setiap faktor yang berhubungan dengan kebutuhan dasar manusia akan makanan, air, kenyamanan dan keamanan.
b. Situasional (orang dan lingkungan) Berhubungan dengan ancaman konsep diri terhadap perubahan status, adanya kegagalan, kehilangan benda yang dimiliki, dan kurang penghargaan dari orang lain.
a). Berhubungan dengan kehilangan orang terdekat karena kematian, perceraian, tekanan budaya, perpindahan, dan adanya perpisahan sementara atau permanen.
b). Berhubungan dengan ancaman intergritas biologis : yaitu penyakit, terkena penyakit mendadak, sekarat, dan penanganan-penanganan medis terhadap sakit.
c). Berhungan dengan perubahan dalam lingkungannya misalnya  pencemaran lingkungan, pensiun, dan bahaya terhadap keamanan.
d). Berhubungan dengan perubahan status sosial ekonomi, misalnya pengangguran, pekerjaan baru, dan promosi jabatan.
e). Berhubungan dengan kecemasan orang lain terhadap individu. Freud (dalam Hall, 1980), faktor yang mempengaruhi kecemasan adalah lingkungan disekitar individu.dan menurut Priest (1987), bahwa sumber umum dari kecemasan adalah pergaulan, usia yang bertambah, keguncangan rumah tangga, dan adanya problem. Selain itu kecemasan juga ditimbulkan karena tidak terpenuhinya kebutuhan seksual, atau frustasi karena tidak tercapainya apa yang diingini baik material maupun sosial. Menurut Tallis (1995), bahwa penyebab individu cemas adalah masalah yang tidak bisa terselesaikan. Contoh masalah yang tidak dapat terselesaikan adalah penuaan dan kematian. Menurut Dimyati (1990), mengatakan bahwa kecemasan disebabkan oleh adanya keinginan-keinginan, kebutuhan, dan hal-hal yang tidak disetujui oleh orang-orang disekitar, selain itu rangsangan emosi merupakan reaksi terhadap kekecewaan terhadap frustasi. Sedangkan menurut Freud (dalam Dimyati, 1990), bahwa penyebab kecemasan pada individu adalah motif sosial dan motif seksual. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan kecemasan menghadapi menopause adalah masalah yang tidak terselesaikan, kekhawatiran terhadap sesuatu yang belum terjadi, adanya motif sosial dan motif seksual.
3. Gejala-gejala kecemasan menghadapi menopause Setiap individu pasti pernah merasakan perasaan tidak nyaman, takut waswas akan suatu hal dalam hidupnya, salah satunya adalah perasaan cemas. Ada beberapa gejala tentang kecemasan menurut Morgan (1991) yaitu :
a. Gejala fisiologis : gemetar, tegang, nyeri otot, letih, tidak dapat santai, kelopak mata bergetar, kening berkerut, muka tegang, tak dapat diam, mudah kaget, berkeringat, jantung berdebar cepat, rasa dingin, telapak tangan lembab, mulut kering, pusing, kepala terasa ringan, kesemutan, rasa mual, rasa aliran panas dingin, sering kencing, diare, rasa tak enak di ulu hati, kerongkongan tersumbat, muka merah dan pucat, denyut nadi dan nafas yang cepat waktu istirahat.
b. Gejala psikologis : rasa khawatir yang berlebihan tentang hal-hal yang akan datang, seperti cemas, khawatir, takut, berpikir berulang-ulang, membayangkan akan datangnya kemalangan terhadap dirinya maupun orang lain, kewaspadaan yang berlebih, diantaranya adalah mengamati lingkungan secara berlebihan sehingga mengakibatkan perhatian mudah teralih, sulit konsentrasi, merasa nyeri, dan sukar tidur. Adapun gejala-gejala psikologis adanya kecemasan menghadapi menopause bila ditinjau dari beberapa aspek, menurut Blackburn dan Davidson (dalam Zainuddin, 2000) adalah sebagai berikut:
a. Suasana hati, yaitu keadaan yang menunjukan ketidaktenangan psikis, seperti mudah marah, persaaan sangat tegang.
b. Pikiran, yaitu keadaan pikiran yang tidak menentu, seperti : khawatir, sukar konsentrasi, pikiran kosong, membesar-besarkan ancaman, memandang diri sebagai sangat sensitif, merasa tidak berdaya,.
c. Motivasi, yaitu dorongan untuk mencapai sesuatu, seperti : menghindari situasi, ketergantungan yang tinggi, ingin melarikan diri dari kenyataan.
d. Perilaku gelisah yaitu keadaan diri yang tidak terkendali seperti : gugup, kewaspadaan yang berlebihan, sangat sensitif dan agitasi.
e. Reaksi-reaksi biologis yang tidak terkendali, seperti : berkeringat, gemetar, pusing, berdebar-debar, mual, mulut kering. Menurut Freud (dalam Hall, 1980), mengatakan tentang gejala-gejala kecemasan yang dialami oleh individu biasanya mulutnya menjadi kering bernafas lebih cepat, jantung berdenyut cepat. Selain hal diatas Weekes (1992), menambahkan tentang gejala-gejala kecemasan yang lain diantaranya adalah gelisah, adanya perasaan tidak berdaya, tidak nyaman, insomnia, menarik diri, gangguan pola makan, komunikasi verbal menurun, perasaan terancam atau ketakutan yang luar biasa, pikiran terpusat pada gangguan fisiknya dan kesadaran diri menurun, merasa mual, banyak berkeringat, gemetar dan seringkali diare. Dari uraian diatas dapat disimpulkan tentang gejala-gejala kecemasan menghadapi menopause adalah suasana hati yang menunjukan ketidaktenangan psikis, pikiran yang tidak menentu, motivasi untuk mencapai sesuatu, reaksireaksi biologis yang tidak terkendali.
4. Periode terjadinya menopause
Wanita dilahirkan dengan sejumlah besar sel telur yang secara bertahap akan habis terpakai. Ovarium tidak mampu membuat sel telur baru, sehingga begitu sel telur yang dimiliki sejak lahir habis, maka ovulasi akan berhenti sama sekali. Jadi terdapat semacam kekurangan hormon yang menyebabkan sebagian besar masalah yang terjadi disekitar menopause atau yang berkembang sesudahnya. Muhammad (1981), menjelaskan bahwa pada suatu saat akan tiba waktunya bagi sisa folikel sel telur yang berada pada indung telur mulai menghilang. Saat ini tidaklah sama pada setiap wanita. Perubahan ini terjadi secara mendadak, diantara umur 45 tahun dan 55 tahun. Ada transisi yang bertahap dari masa kegiatan indung telur yang tidak ada lagi, ketika wanita itu sudah mulai memasuki usia menopause Terjadinya menopause dipicu oleh perubahan hormon dalam tubuh. Dimana hormon merupakan suatu zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar tertentu dalam tubuh (tidak semua kelenjar menghasilkan hormon), yang efeknya mempengaruhi kerja alat-alat tubuh yang lain. Hormon yang dikeluarkan melalui saluran terbuka keluar, tetepi langsung disalurkan ke dalam darah melalui perembesan pada pembuluh-pembuluh darah yang ada disekitar kelenjar tersebut. Seperti diketahui ada tiga macam hormon penting yang diproduksi oleh ovarium, yaitu estrogen, progesteron, dan testotesron, dimana setelah mencapai menopause hormon-hormon ini tidak diproduksi. (Sadli, 1987) Estrogen dan progesteron pada wanita disebut hormon kelamin (sex hormones). Esrtogen pada wanita menampilkan tanda-tanda kewanitaan, seperti kulit halus, suara lemah lembut, payudara membesar. Dalam setiap bulan, kadar estrogen dan progesteron bergelombang, bergantian naik turun. Gelombang itu yang menyebabkan terjadinya haid pada wanita. Lain halnya dengan estrogen yang hanya dihasilkan oleh indung telur selam persediaan sel tulur masih ada. Tugas estrogen sebenarnya ialah mematangkan sel telur sebelum dikeluarkan. Oleh karena itu selam estrogen masih ada, sel telur tetap akan diproduksi. Kemudian setelah wanita berusia sekitar 45 tahun, ketika persediaan sel telur habis, indung telur mulai menghentikan produksi estrogen akibatnya haid tidak muncul lagi. Pada wanita tersebut menginjak masa menopause, yang berarti berhentinya masa kesuburannya. (Sadli, 1987) Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa periode terjadinya menopause ketika persediaan sel telur habis, indung telur mulai menghentikan produksi estrogen akibatnya haid tidak muncul lagi. Pada wanita tersebut menginjak masa menopause, yang berarti berhentinya masa kesuburannya.

DAFTAR PUSTAKA
Adi, A. W. 1994. Hubungan Sholat Dengan Kecemasan. Jakarta ; Studio Press.
Admir. 2005. Menopause Dini, Datang Di Saat? Tak Terduga.
www.ummigroup.co.id. Akses 1 Juni 2005.
Azwar, S. 1992. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Sigma Alpha.
1999. Metode Penelitian.Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset.
Bali post. 2005. Insomnia. www.balipost.com. Akses 16 Maret 2005.
Byrne, D. 1966. An Introduction to Personality. New Jersey : A Englewood dift.
Daradjat Z 1987. Menghadapi Masa Menopause (mendekati Usia Tua). Jakarta
:Bulan Bintang.
Dimyati, M. M. 1990. Psikologi Suatu Pengantar. Edisi I. Yogyakarta: BPFE.
Gusti, I. P. 1993. Gangguan Tidur (Insomnia) dan Terapinya Suatu Kajian
Pustaka. Majalah Ilmiah Unud. Vol. 15. No. 37. Hal. 29-35.
Hadi, S. 1985. Metodologi Research I. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas
Psikologi Universitas Gadjah Mada.
. 1990. Metodologi Research Jilid III. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan .
Fakultas Psikologi UGM
Hall, C. S. 1980. Suatu Pengantar Kedalam Ilmu Jiwa Sigmund Freud
(Terjemahan Oleh Tasrif). Bandung: Pustaka Pelajar.
Hawari, D. 1990. Insomnia. Majalah Anda. Jakarta. Hal. 101-102.
Hawari, D. 1997. Al-Qur’an Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan. Yogyakarta :
Dana Bhakti Primayasa.
Hardjanta,G. 1994. Efektivitas Perlakuan Kontrol Stimulus dan Intensi Paradoksal
Pada Penderita Insomnia. Tesis (tidak diterbitkan). Yogyakarta : Program
Pasca Sarjana. UGM.
Hurlock, E.B. 1990. Psikologi Perkembangan, Suatu Rentang Kehidupan
(terjemahan : Istiwidayanti dan Soedjarwo). Edisi 5. Jakarta : Erlangga.
Hoeve, V, 1992. Ensiklopedi. (Terjemahan : Irsyad, M) Jakarta : Ichtiar Baru.
Iskandar, Y, 1985. Gangguan Tidur Dan Pengobatannya. Simposium Kesehatan
Jiwa ke XIII / 1985. Jakarta. Edisi Juli. Vol 4 No. 8.
Kartono, K. 1992. Psikologi Wanita Jilid 2 : Wanita Sebagai Ibu Dan Nenek.
Bandung: Mandar Maju.
.2003. Patologi Sosial : Gangguan-Gangguan Kejiwaan. Jakarta :Raja
Grafido Persada.
Kavery, 1995. Penyebab Gangguan Insomnia (terjemahan : Ibrahim, M). Harian
Pikiran Rakyat. Tnggal 16 Maret. Bandung, hal. 4-5.
Kompas. 2004. Sulit Tidur Saat Menopause. www.kompas.com. Akses 1 Juni
2005.
Lumbatobing, 2004. Gangguan Tidur. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
Maramis, W. F, 1994. Imu Kedokteran Jiwa. Jakarta : Erlangga.
Mappiare, 1983. Psikologi Orang Dewasa. Surabaya : Usaha Nasional.
Medicastore, 2004. Insomnia. www.medicastore.com. Akses 14 Maret 2005.
Muhammad, K. 1981. Ginekologi Dan Kesehatan Wanita. Jakarta: Gaya Favo
Presss.
Morgan, H. G. 1991. Segi Praktis Psikiatri. Edisi Kedua (terjemahan Hartanto).
Jakarta: Bina Rupa Aksara.
Nusa Indah, 2005. Info Kesehatan. www.Tripod.com. Akses 16 maret 2005.
Pakasi, L. S. 2000. Menopause: Masalah dan Penanggulangannya Edisi Kedua.
Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Rahman, I. A. 2000. Perubahan Tubuh Menjelang Menopause Dan Gejala Serta
Tanda Yang Menyertainya. Edisi Kedua. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Insonesia.
Rafknowledge, 2004. Insomnia Dan Gangguan Tidur Lainnya. Jakarta : PT Elex
Media Komputindo.
Republika, 2005. Mengatasi insomnia. www.Republika.co.id. Akses 16 Maret
2005.
Rosemary, N. 1992. Tidur Nyenyak Tanpa Obat. (terjemahan : Suryana) Jakarta
Arcan.\
Sadli, S. 1987. Di Atas 40 Tahun. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
Santoso, Jihad. 2003. Pengaruh Menstruasi terhadap Insomnia Pada Mahasiswa
Putri Fakultas Kedoteran UMY Angkatan 1999. www.Bachelor
paper.com. Akses 23 Juni.
Sinar Harapan. 2002. Mengatasi Insomnia. www.Sinarharapan.com. Akses 16
Maret.
Suryabrata, S. 1990. Metodologi Penelitian. Jakarta: CV. Rajawali.
Subekti, T. H. 2000. Hubungan Kematangan Emosi Dengan Kecemasan dalam
Menghadapi Usia Lanjut Pada Ibu Rumah Tangga. Skripsi (tidak
diterbitkan). Surakarta : Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah
Surakarta.
Tallis, Fr. 1995. Mengatasi Rasa Cemas (Ahli Bahasa Meitasari Tjandrasa).
Jakarta: Arcan.
Wong, M, 1995. Tidur Tanpa Obat. (Terjemahan : dr. Hutapea) Yogyakarta :
Yayasan Essensia Medica.
Weekes, C. 1992. Mengatasi Stres (Terjemahan oleh Soemarto). Yogyakarta:
Kanisius
Zainuddin, S. K. 2002. Menopause. www.e-psikologi.com. Akses 1 Juni 2005

Kamis, 03 November 2011

Belajar Dari Afrika Selatan

"Experience without theory is blind, but theory without experience is
mere intellectual play. – Pengalaman tanpa teori itu buta, tetapi
sebuah teori tanpa pengalaman hanyalah merupakan drama intelektual."
– Immanuel Kant –

Selama 10 hari mengunjungi Afrika Selatan, saya mendapatkan

petualangan wisata yang sangat mengesankan. Sejak awal tatkala
menyusuri tempat-tempat wisata di negri itu, saya sudah terkagum- kagum akan kerapian sarana dan infrastruktur kota-kotanya. Cape Town
dan Sun City misalnya, merupakan contoh tempat wisata disana yang
dilengkapi fasilitas berkelas internasional. Tidak heran jika Afrika
Selatan dikatakan sebagai negara paling maju diantara 30 negara- negara bekas jajahan Perancis dan Inggris di benua Afrika.

Kemerdekaan dan kemajuan di negri Afrika Selatan saya kira tidak

lepas dari peran Nelson Rolihlahla Mandela, seorang pemimpin moral
dan politik. Dialah pria yang membaktikan hidupnya membela rakyat
tertindas akibat hukum rasialis, meskipun untuk itu ia dipenjarakan
lebih dari 25 tahun. Mandela merupakan referensi sebagai seorang
pejuang kemerdekaan hak asasi manusia dan persamaan ras.

Semangat Mandela merupakan ciri khas seorang pemimpin politik yang

paling mengesankan dan inspiratif di dunia. Ia pernah
mengatakan, "This age will die not as a result of some evil, but from
a lack of passion. – Sebuah kejayaan akan mudah hancur bukan
disebabkan oleh tindak negatif pihak lain. Kehancuran itu lebih
disebabkan oleh kurangnya semangat." Semangat juang Mandela mampu
mengkoyak tirani negara asing dan mengantarkan Afrika Selatan
mencapai kemerdekaan.

Ironisnya, di tengah kemerdekaan dan kemajuan di Afrika Selatan,

ternyata masih banyak bangsa kulit hitam yang hidup miskin atau
terjajah secara ekonomi. Mengapa mereka tidak mampu bercermin dari
semangat seorang Nelson Rolihlahla Mandela untuk memperbaiki keadaan
mereka? Padahal sebagai bangsa yang merdeka, tentu setiap warga
negara mempunyai kesempatan yang sama untuk memperbaiki kondisi
perekonomian dan berpacu dalam prestasi.

Berawal dari sanalah saya berpikir mungkin semangat untuk merubah

keadaan belum sepenuhnya mereka miliki. Karena semangat merupakan
modal utama mendapatkan kemajuan dan kesuksesan dalam bisnis dan
kehidupan. Sebagaimana Benjamin Disreali mengatakan, "Man is only
truly great when he acts from his passions. – Manusia akan mampu
mencapai kejayaan jika ia bekerja dengan penuh semangat."

Tanggung jawab pekerjaan dilakukan dengan semangat yang tinggi maka

akan terasa menyenangkan. Pekerjaan yang dilakukan dengan senang hati
maka hasilnyapun akan memuaskan. Menurut Billy Mills, "Every passion
has its destiny. – Setiap semangat mengandung keberuntungan." Oleh
sebab itu kita harus memperhatikan tiga faktor penting yang dapat
menjamin semangat kita tetap tinggi hingga mencapai kemajuan dan
kesuksesan.

Faktor pertama adalah menciptakan tujuan yang spesifik. Tentu kita

akan jauh lebih bersemangat jika menjalankan sesuatu yang menjanjikan
hasil memuaskan. Bahkan kita akan rela menempuh pekerjaan yang sulit
sekalipun jika tujuannya jelas dan pasti menghasilkan. Brian Tracy
mengatakan, "Goals allow you to control the direction of change in
your favor. – Tujuan membuatmu mampu mengontrol arah perubahan, dan
menjalankannya sebagai sesuatu yang menyenangkan."

Sebagai contoh adalah pengalaman kami sewaktu bersafari wisata

melihat-lihat suaka margasatwa Pilanesberg di Afrika Selatan. Ada
sebuah mitos bahwa kami akan mendapatkan keberuntungan jika berhasil
bertemu dengan 5 jenis binatang (The Big 5)di taman hutan itu. Kami
aktif dan bersemangat menyusuri hutan meskipun dengan mobil bak
terbuka. Tetapi sebenarnya hal itu bukan disebabkan kami percaya akan
mitos tersebut. Semangat kami terdorong keinginan yang besar untuk
mendapatkan pengalaman petualangan wisata di hutan bebas dan terbuka
seperti di Afrika Selatan yang benar-benar alami dan mengesankan.

Hal kedua yang meningkatkan semangat kita agar berhasil mencapai

kemajuan adalah kemauan untuk terus mengembangkan diri. Mengembangkan
diri dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun, misalnya dengan membaca
buku, mendengarkan kaset, mengikuti seminar, dan bergaul dengan orang- orang yang sukses. Charlie Tremendous Jones mengatakan, "You will be
in five years the sum total of the books you read and the people you
are around. – Apa yang menentukan dirimu 5 tahun yang akan datang
merupakan cermin dari buku apa saja yang sudah telah kau baca dan
dengan siapa saja kau bergaul."

Nelson Mandela adalah sosok yang berpendidikan cukup tinggi.

Pengetahuannya tentang hukum dan politik juga sangat luas. Tetapi ia
terus bersemangat mengembangkan diri. Di pulau Robben, dimana Mandela
pernah dipenjarakan, ia merupakan pusat menimba ilmu pengetahuan bagi
narapidana politik lainnya. Bahkan mereka menganggap Mandela sebagai
sumber kekuatan dan semangat.

Seandainya saja bangsa kulit hitam yang miskin di Afrika Selatan itu

mau mengembangkan diri seperti yang dilakukan oleh Nelson Mandela,
mungkin tidak akan ada kehidupan yang sulit bagi mereka saat ini.
Karena kemampuan yang lebih baik akan membantu kita mencapai prestasi
baru, dan hal itu akan membuat kita lebih termotivasi untuk mencapai
kemajuan berikutnya. Jika kita mempunyai kemauan untuk terus
mengembangkan diri, itu artinya kita akan selalu bersemangat dan
tidak dapat berhenti mencapai kemajuan.

Faktor yang tidak kalah penting guna meningkatkan semangat dan

mencapai kemajuan adalah membuat anggaran keuangan dengan baik.
Berapapun penghasilan kita tidak akan berdampak positif jika tidak
diikuti dengan perencanaan dan penggunaan uang dengan bijaksana.
Sedikitnya sisihkan penghasilan tiap bulan untuk ditabung,
berinvestasi dan bersedekah masing-masing 10%. Dengan cara demikian
suatu ketika kita akan dapat merasakan kemajuan kondisi keuangan
sekaligus mampu mengembangkan peluang usaha dengan baik.

Semua orang mempunyai potensi yang sama besar untuk melaksanakan

ketiga faktor penting tersebut. Saya kira hanya upaya dan semangat
dalam diri kitalah yang paling menentukan apakah selamanya kita akan
hidup menderita dan terjajah atau tidak? Belajarlah dari kemajuan
maupun kesenjangan hidup masyarakat yang ada Afrika Selatan atau
dimanapun.*

Sumber: Belajar dari Afrika Selatan oleh Andrew Ho.

Selasa, 01 November 2011

Tanda Tanda Anak Akan Masuk TK...

Modalnya bukan cuma mandiri dan siap ditinggal di kelas. Kenali kesiapannya dengan melihat berbagai aspek perkembangan di bawah ini. Masuk TK berarti anak masuk ke lingkungan baru. Ia harus bisa berinteraksi dengan orang lain yang belum dikenalnya, menyesuaikan diri dengan suasana serta ruangan dan alam yang sangat berbeda dari apa yang ia ketahui sebelumnya. Tentunya si kecil tak bisa dilepas begitu saja memasuki dunia barunya tersebut, ia harus disiapkan lebih dulu. Kita sendiri yang sudah dewasa, pun, bila masuk lingkungan baru tanpa persiapan tentu akan canggung, kan?
Nah, berikut ini 4 faktor yang harus diperhatikan orang tua seperti dipaparkan Drs. Bambang Sujiono, M.Pd , kandidat Doktor Pendidikan Usia Dini (PUD) di Universitas Negeri Jakarta.
1. KESIAPAN FISIK
Aspek fisik meliputi motorik kasar dan halus. Pada motorik kasar, misal, anak sudah mampu menggerakkan seluruh anggota tubuhnya untuk melakukan gerakan-gerakan seperti berlari, memanjat, naik-turun tangga, melempar bola, bahkan melakukan dua gerakan sekaligus semisal melompat sambil melempar bola.
Aktivitas belajar di TK memang banyak mengandalkan motorik kasar. Karenanya, bila anak aktif bergerak, justru itu yang diharapkan. Nanti di TK dikembangkan aspek fisik yang lain seperti keseimbangan, kelenturan, daya tahan dan lainnya. Jadi jangan sampai anak itu, misal, kekuatan kakinya bagus tetapi keseimbangannya kurang sehingga gampang jatuh. Atau, baru main sebentar langsung capek. Semua aspek fisik yang menjadi bagian motorik anak, selanjutnya harus dikembangkan di TK.
Sedangkan motorik halus akan sejalan dengan pembelajaran yang diberikan di TK. Anak akan belajar menggunting, melipat, memasukkan bola-bola, memilih biji-bijian. Nah, itu semua pasti akan jalan bila ditunjang oleh fisik yang bagus.
2. KESIAPAN EMOSIONAL
Kesiapan emosional yang paling penting menyangkut kemandirian. Paling tidak, ketika si anak berada di kelas, dia sudah duduk sendiri, tidak tergantung pada siapa-siapa, dan mau mengikuti perintah.
Kesiapan emosional lainnya ditunjukkan dengan kesiapan anak menerima situasi yang baru. Tentu wajar saja bila pada hari-hari pertama, anak menangis menghadapi situasi yang berbeda dari rumah. Akan tetapi, anak yang lebih siap, beberapa hari kemudian sudah mampu berbaur dengan teman-temannya dan siap menerima bimbingan serta pembelajaran. Dia sudah tidak lari-lari lagi di kelas ketika diminta duduk oleh gurunya.
hanya mempersiapkan anak pada kesiapan sosialisasi saja. Artinya, kalau si anak sudah tak takut bertemu orang, menunjukkan minat untuk berkawan, berarti dia sudah siap. Ini memang harus disiapkan. Tetapi sebenarnya tak cuma ini. Anak bukan hanya tidak takut berhadapan dengan orang lain, tapi juga mau mendengarkan orang lain. Kemampuan ini penting dalam bersosialisasi dan kalau guru bicara tetapi si anak lari ke sana-ke mari, maka rangsangan emosional yang diterimanya kurang lengkap. Jadi, anak juga harus diajarkan, bagaimana menjadi pendengar sebelum masuk TK.
3. KESIAPAN KOGNITIF
Salah satunya adalah kemampuan bahasa karena di TK anak diharapkan mampu memahami intruksi yang diberikan oleh guru. Ia pun diharapkan mampu menyampaikan pendapat, perasaan, dan isi pikirannya meski belum runtut. Dengan demikian, anak juga harus memunyai perbendaharaan kosakata yang cukup untuk seusianya.
Bagaimana dengan baca-tulis? Kemampuan ini bukan menjadi syarat masuk TK. Namun, bila anak sudah mampu melakukannya, disarankan agar orang tua mencarikan sekolah yang cocok untuknya. Bila anak sudah punya kemampuan menghitung, misal, dan dia dimasukkan ke TK dimana anak-anaknya bahkan belum bisa menghitung 1 sampai 10, maka bisa-bisa potensinya malah hilang.
Untuk anak-anak seperti ini tentunya perlu penanganan khusus. Maksudnya, kita tak boleh menyamaratakan dengan teman-temannya yang lain karena potensinya berbeda. Jadi, kita harus betul-betul melihat keunikan masing-masing anak dan itu harus dijalankan secara individual.
Orang tua juga jangan berharap bahwa di TK itu anaknya nanti diajarkan baca -tulis dan matematika seperti di SD. Yang dilakukan di TK adalah mengajari anak mengenal dasar-dasarnya dan itu pun dilakukan lewat bermain. Contoh, mengenali bentuk huruf, warna dan bentuk angka.
4. KESIAPAN SOSIAL
Di TK, anak berkumpul bersama teman-teman yang baru saja dikenalnya. Dia akan berusaha menyesuaikan diri dalam lingkungan sekolah yang baru. Ia pun akan mengenal aturan-aturan baru hidup bersama dan menyimak "pelajaran" dari guru-guru sambil belajar bersama teman-temannya.
Nah, kesiapan sosial dilihat dari kemampuan anak untuk tidak takut menghadapi orang asing, berani memasuki lingkungan baru dan tak ragu diajak berkomunikasi. Contoh, ada anak yang sudah berminggu-minggu sekolah masih menangis jika ditinggal oleh ibunya. Ini berarti si anak masih takut berada di lingkungan baru. Beda dengan yang siap, biasanya mereka malah enjoy bila bertemu teman-teman baru.
AGAR ANAK LEBIH SIAP MASUK SEKOLAH
* Berikan informasi menyenangkan tentang TK sebagai pembentukan persepsi awal tentang sekolah. Misal, ia akan bertemu dengan teman-teman baru dan mainan baru. Ada juga guru-guru baru yang ramah dan baik. Di sana banyak mainan sehingga bisa bermain bersama teman-teman. Gambar-gambar di dinding kelasnya juga lucu-lucu.
* Di sisi lain, orang tua juga mesti menjelaskan konsekuensinya. Contoh, karena bermain bersama teman-teman, maka ia harus mau bergantian, juga patuh pada guru, dan tertib.
* Jelaskan pula kenapa ia "harus" masuk TK, apa tujuannya, dan apa saja yang akan didapat di TK. "Dengan sekolah di TK, Kakak akan banyak teman dan belajar banyak. Kan, Kakak katanya mau jadi anak pintar," misal.
* Agar anak bisa memahami secara konkret bagaimana nantinya kala ia duduk di TK, lakukan dengan cara bermain peran. Misal, ibu jadi guru dan anak jadi murid atau sebaliknya. Malah kalau bisa, dalam bermain peran itu, tempat dan suasana ditata sedemikian rupa seperti di TK sungguhan. Ibu memberikan permainan-permainan yang sering diajarkan di TK. Dengan cara demikian, kita telah menyiapkan mental anak untuk siap masuk TK.
Sebaiknya orang tua sudah mulai memberikan gambaran ini jauh-jauh hari sebelum sekolah sesunggguhnya dimulai. Paling tidak tiga bulan sebelum anak masuk TK sehingga mental anak untuk sekolah pun telah kuat dan siap. Bila perlu, lewatlah di depan sekolahnya atau masuk ke dalam kelasnya untuk beberapa hari sebelum sekolah dimulai. Hingga ketika tiba gilirannya masuk sekolah, tak ada kesulitan lagi. Malah anak akan senang dan bahkan bisa jadi saat masuk di hari pertama, dia sudah percaya diri dan tak perlu ditemani masuk kelas oleh orang tua atau pengasuhnya.
ANAK SAYA, KOK, ENGGAK SIAP JUGA?
Bagaimana kalau si kecil ternyata belum siap masuk TK? Misal, sudah umur 5 tahun tapi masih enggan bersosialisasi alias masih takut ketemu orang. Dalam hal kemandirian, menurut Bambang , orang tua hendaknya jangan buru-buru memvonis anak belum siap mental untuk sekolah hanya karena ia selalu menangis setiap kali masuk kelas. "Kecemasan-kecemasan seperti itu lumrah terjadi pada anak, meski banyak juga anak yang percaya dirinya tinggi."
Untuk itu, lanjutnya, orang tua harus bisa membujuk anak. Contoh, "Katanya Kakak mau jadi anak pintar, kok, enggak mau sekolah. Ada apa?" Bila ia menjawab takut, orang tua bisa melakukan bargaining dengan anak, semisal, berjanji menemaninya, "Oke, deh, sekarang Bunda ikut temani kamu di kelas." Selama beberapa hari, orang tua boleh menemani anak di kelas. Setelah itu perlahan-lahan waktu bersama anak dikurangi sampai akhirnya orang tua hanya mengantar dan menjemput.
Bambang mengingatkan, dunia anak adalah dunia bermain. Karenanya, begitu anak bertemu dengan teman sebaya yang asyik bermain, apalagi ditambah permainan yang banyak di kelas, anak-anak yang tadinya pemalu pun akan lumer dan membaur bermain. "Prinsipnya, jangan karena enggak bisa ditinggal lalu anak 'diperam' terus di rumah. Nanti malah terhambat sosialisasinya. Usianya makin tinggi tetapi kematangan emosionalnya tidak tumbuh juga. Lebih baik cemplungkan saja tetapi lakukan secara bertahap."
Tentunya orang tua jangan segan-segan untuk memberi tahu guru mengenai kondisi anak kita. Misalnya, anak sangat pemalu, guru bisa menciptakan suasana yang hangat dan akrab baginya. "Lama-lama anak akan merasa, 'Oh, sekolah itu ternyata menyenangkan.' Akhirnya, tanpa dibangunkan pun, ia akan segera sigap berangkat ke sekolah."
Juga bukan berarti bila ada kekurangan di aspek lain, orang tua jadi minder memasukkan anaknya ke TK. "Justru dengan memasukkan ke TK, orang tua dan guru akan bersama-sama menambah kekurangan itu dan mengembangkan potensi yang sudah ada. Sekali lagi, dengan cara bermain dan tanpa paksaan."
PENDIDIKAN DI TK SANGAT BERMANFAAT
Prinsip belajar di TK adalah bermain. Meski hanya bermain, tetapi banyak manfaatnya. "Anak bisa mengembangkan seluruh potensinya lewat bermain sehingga saat terjun ke sekolah formal sesungguhnya, dia bisa memahami keberadaan di lingkungannya bahwa ia punya tanggung jawab, bisa mengikuti peraturan, tata tertib, dan disiplin-disiplin yang diberikan," papar Bambang .
Di TK, anak jakan mendapatkan pelajaran-pelajaran baru semisal mengenal warna, bentuk, irama, dan lainnya lewat bermain. Lewat bermain pula, anak bukan hanya bisa mengembangkan otot-ototnya, baik otot besar maupun otot halus seperti perkembangan motorik kasar dan halus, tapi juga bisa berfantasi dan mengekspresikan diri. Anak juga belajar bersosialisasi, berbicara satu dengan lainnya lewat bermain.
Itulah sebabnya, jenjang TK tak bakal menjadi prasyarat masuk SD, tapi Bambang berpendapat, TK lebih bermanfaat. "Karena anak akan mengenal nuansa yang bakal ditemuinya di SD, seperti bahwa sekolah itu belajar aturan. Nah, di rumah, kan, tidak ada aturan seperti dalam belajar kelompok, bermain bersama, patuh pada guru dan disiplin kelas," ujar pendidik yang bersama istrinya menulis buku Seri Mengembangkan Potensi Bawaan Anak .
Anak yang sudah bersekolah di kelompok bermain umumnya akan lebih mudah menyesuaikan diri saat masuk TK. Minimal, anak tak "kaget" saat menemui lingkungan baru. Ia sudah bisa bermain dan mampu bersosialisasi dan terbiasa menerima instruksi dari orang lain selain orang tuanya.
Tak lupa ia berpesan agar orang tua melakukan survei ke sekolah yang dituju. Dengan mengetahui apa yang diprogramkan oleh sekolah dan apa yang kita siapkan, maka kita akan tahu mana sekolah yang cocok untuk anak kita.